Latest Archive :
Home » » Kepemimpinan Hindu

Kepemimpinan Hindu

Written By Ferry Apriyana on Selasa, 27 November 2012 | 23.39

2.1.   Pengertian Kepemimpinan
Dalam agama Hindu, banyak ditemukan istilah yang menunjuk pada pengertian pemimpin. Ajaran atau konsep kepemimpinan (leadership) dalam Hindu dikenal dengan istilah Adhipatyam atau Nayakatvam. Kata “Adhipatyam” berasal dari “Adhipati” yang berarti “raja tertinggi” (Wojowasito, 1977:5 dalam Romonadha). Sedangkan “Nayakatvam” dari kata “Nayaka” yang berarti “pemimpin, terutama, tertua, kepala” (Wojowasito, 1977:177 dalam Romonadha).
Asal-usul seorang pemimpin sebenarnya telah ditegaskan dalam kitab suci Veda (Yajurveda XX.9) sebagaimana telah disebutkan di muka, yang secara jelas menyatakan bahwa seorang pemimpin berasal dari warga negara atau rakyat. Tentunya yang dimaksudkan oleh kitab suci ini adalah benar-benar memiliki kualifikasi atau kemampuan seseorang. Hal ini adalah sejalan dengan bakat dan kemampuan atau profesi seseorang yang dalam bahasa Sanskerta disebut dengan Varna. kata Varna dari urat kata “Vr” yang artinya pilihan bakat dari seseorang (Titib, 1995:10 dalam Romonadha).
Sementara itu kata “pemimpin” mempunyai kaitan yang sangat erat dengan kata “kepemimpinan”. Kepemimpinan adalah kemampuan yang dimiliki dari seorang pemimpin. Dengan kata lain, kepemimpinan juga dapat diartikan sebagai kemampuan untuk memimbing dan menuntun seseorang. Menurut William H.Newman (1968) kepemimpinan adalah kegiatan untuk mempengaruhi perilaku orang lain atau seni mempengaruhi perilaku manusia baik perorangan maupun kelompok. Bahasan mengenai pemimpin dan kepemimpinan pada umumnya menjelaskan bagaimana untuk menjadi pemimpin yang baik, gaya dan sifat yang sesuai dengan kepemimpinan serta syarat-syarat apa yang perlu dimiliki oleh seorang pemimpin yang baik.
George Terry, dalam bukunya Principles of Management menyatakan bahwa kepemimpinan adalah keseluruhan aktivitas/ tindakan untuk mempengaruhi serta menggiatkan orang dalam usaha bersama untuk mencapai tujuan. Seorang pemimpin dalam kepemimpinannya dinyatakan berfungsi untuk menggiatkan atau menggerakkan bawahannya. Fungsi menggerakkan adalah fungsi pembimbingan atau pemberian pemimpin serta menggerakkan orang-orang atau kelompok agar suka dan mau bekerja.

2.2.   Tipe-Tipe Kepemimpinan
Bagaimana kita dapat mengatakan bahwa seorang pemimpin itu baik atau buruk pekerjaan yang tidak mudah. Banyak upaya yang dapat kita lakukan, dan banyak pula jalan yang harus dilalui. Kitab Kekawin Nitisastra menyebutkan sebagaimana tersurat.
Ring jadmadhika meta cittaseping sarwa pingenaka, ring sri madhya manohara priya wuwustangde manah kung lulut, yang ring madhyani sang pandita mucap tattwopadeca prihen, yang ring madhyanikung musuh mucapakaen wak cura singhakerti
(Kekawin Nitisastra I.4)
Artinya : Orang yang terkemuka harus bisa mengambil hati dan menyenangkan hati orang ; jika berkumpul dengan wanita, harus dapat mempergunakan perkataan-perkataan manis yang menimbulkan rasa cinta birahi, jika berkumpul dengan pendeta, harus dapat membicarakan pelajaran-pelajaran yang baik, jika berhadapan dengan musuh, harus dapat mengucapkan kata-kata yang menunjukkan keberaniaanya seperti seekor singa.
Demikian Nitisastra menggambarkan bagaimana seharusnya seorang pemimpin di dalam memimpin masyarakatnya, mampu berpenampilan dengan berbagai macam sifat, sikap, dan upaya. Dengan demikian masyarakat yang dipimpinnya menjadi senang dan sang pemimpin merasa bahagia. Dr. Kartini Kartono, dalam bukunya “Pemimpin dan Kepemimpinan” menyebutkan beberapa tipe-tipe kepemimpinan, antara lain sebagai berikut:
1)      Tipe Karismatik
Tipe kepeminpinan ini memiliki kekuatan energi, daya tarik dan karisma yang luar biasa untuk mempengaruhi orang lain, sehingga ia memiliki pengikut yang sangat besar jumlah dan pengawal-pengawal yang bisa dipercaya. Contoh pemimpin yang memiliki tipe karismatik yaitu, Jhon F. Kennedy, IR. Soekarno.
2)      Tipe Paternalistis
Tipe parternalistis adalah kepemimpinan yang kebapakan. Dengan sifat-sifat antara lain sebagai berikut :
a.       Dia mengganggap bawahannya sebagai manusia yang belum dewasa, atau anak sendiri yang perlu dikembangkan.
b.      Dia bersikap terlalu melindungi
c.       Jarang memberikan kesempatan kepada bawahanya untuk mengambil keputusan sendiri.
d.      Dia hampir tidak pernah memberikan kesempatan kepada bawahanya untuk berinisiatif
e.       Tidak memberikan kesempatan kepada bawahanya untuk mengembangkan imajinasi dan daya kreativitas mereka sendiri
f.       Selalu bersikap maha tahu dan maha besar
3)      Tipe Militeristis
Tipe ini sifatnya seperti kemiliter-militeran. Namun hanya tampak dari luar. Adapun sifat pemimpin militeristis adalah sebagai berikut :
a.       Lebih banyak menggunkan sistem perintah atau komando terhadap bawahanya, keras, sangat otoriter, kaku dan sering kali kurang bijaksana.
b.      Menghendaki keputusan ynag mutlak dari bawahanya
c.       Sangat menyenangi formalitas, serta tanda-tanda kebesaran ynag berlebihan
d.      Menuntut adanya disiplin keras
e.       Tidak menghendaki saran, usul, sugesti, dan kritik-kritik dari bawahanya
4)      Tipe Otokratis
Tipe kepemimpinan ini mendasarkan diri pada kekuasaan dan paksaan yang mutlak harus dipatuhi. Sikap dan prinsip dari pemimpin ini sangat konservatif, kuno, ketat dan kaku. Pemimpin otokratis itu senantiasa ingin berkuasa absolut, tunggal, dan merajai keadaan.
5)      Tipe Laissez Faire
Pada tipe kepemimpinan ini, seorang pemimpin praktis tidak memimpin. Dia membiarkan kelompoknya dan setiap orang berbuat semaunya. Pemimpin tidak berpartisipasi sedikitpun dalam kegiatan kelompoknya. Semua pekerjaan dilakukan oleh bawahannya sendiri. Pemimpin yang seperti ini tidak mempunyai kewibawaan, dan tidak bisa mengontrol anak buahnya.
6)      Tipe Populistis
Prof. Peter Worsley dalam bukunya : TheThird World, mendefinisikan kepemimpinan populistis sebagai kepemimpinan yang dapat membangunkan solidaritas masyarakat, misalnya Ir. Soekarno dengan ideologi marhaenismenya yang menekankan masalah kesatuan nasional, nasionalisme, dan sikap yang berhati-hati terhadap kolonialisme dan penindasan-pengisapan serta penguasaan oleh kekuatan –kekuatan asing.
7)      Tipe Administratif atau Eksekutif
Kepemimpinan tipe ini ialah kepemimpinan yang mampu menyelenggarakan tugas-tugas administratif secra efektif. Sedangkan para pemimpinya terdiri dari teknorat dan administratur yang mapu menggerakkan dinamika modernisasi dan pembangunan. Dengan demikian dapat dibangun sistem administrasi dan birokrasi yang efisien untuk memerintah, yaitu untuk memantapkan integrasi bangsa pada khususnya dan usaha pembangunan pada umunya.
8)      Tipe Demokrasi
Kepemimpinan ini pada umunya berorientasi pada manusia, dan memberikan bimbingan yang efisien kepada para pengikutnya. Kepemimpinan ini menghargai potensi setiap individu, mau mendengarkan nasehat serta sugesti dari bawahanya.



2.3.   Kelebihan dan Kekurangan di antara Tipe Kepemimpinan
Seseorang dilahirkan menjadi manusia hendaknya dapat mensyukuri hidup ini, karena untuk dapat lahir menjadi manusia tidaklah mudah. Apapun yang terjadi, manusia hendaknya tetap selalu bersyukur, karena semuanya itu adalah rahmat dan anugrah Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Manusia sebagai sosok pemimpin tentu juga demikian adanya. Pada uraian sebelumnya telah disebutkan beberapa tipe kepemimpinan.
Dari berbagai tipe tersebut masing-masing tentu memiliki kelebihan serta kekurangan, hal ini dikarenakan pemimpin juga manusia yang secara alami dilahirkan dengan kelebihan dan kekuranganya. Berikut merupakan kelebihan dan kekurangan masing-masing tipe kepemimpinan.
1)   Tipe Kepemimpinan Karismatik
Kelebihan tipe ini adalah memiliki daya pengaruh yang tinggi dan kuat. Dengan demikian maka secara mudah dapat memimpin masyarakat yang dipimpinnya. Sedangkan kekuranganya adalah masyarakat yang dipimpinnya tidak memiliki keberanian untuk mengontrol kekurangan dari pemimpinnya, sehingga akan muncul kesewenang-wenangan tertentu dari para pemimpinnya.
2)   Tipe Kepemimpinan Paternalistik
Kelebihan tipe ini adalah para pemimpinnya memiliki rasa tanggung jawab secara penuh dan mandiri dengan kepemimpinannya. Sedangkan kekurangannya adalah masyarakat yang dipimpinnya sulit untuk dapat bertanggung jawab, karena selalu didikte dan mendapat perlindungan dari para pemimpinnya.
3)   Tipe Kepemimpinan Militeristik
Kelibihan tipe kepemimpinan ini adalah masyarakat atau bawahan yang dipimpin akan selalu merasa aman dalam melakasanakan aktivitasnya, karena dapat terhindar dari kekacauan. Sedangkan kekuranganya adalah masyarakat atau bawahannya yang dipimpin merasa kurang bebas untuk mengembangkan dirinya, karena segala sesuatu yang dikerjakan akan dikerjakan setelah mendapatkan perintah dari pemimpinnya.
4)   Tipe Kepemimpinan Otokrasi
Kelebihan tipe kepemimpinan ini adalah para pemipin dengan mudah dapat melaksanakan sistem pemerintahan, karena kebijakan yang dibuat tanpa campur tangan masyarakat yang dipimpinnya. Sedangkan kekurangannya adalah bawahan atau masyarakat yang dipimpin menjadi merasa tertekan, hal ini terjadi akibat kesewenang-wenangan pemimpin.
5)   Tipe Kepemimpinan Lassez Faire
Kelebihan tipe kepemimpinan ini adalah para pemimpinnya dengan mudah dapat menjadi pemimpin. Hal ini terjadi disebabkan adanya unsur kedekatan yang sangat pribadi di antara para pemimpin dengan bawahannya. Sedangkan kelemahannya adalah masyarakat yang dipimpin akan menjadi bodoh, miskin, dan melarat. Hal ini diakibatkan oleh para pemimpin yang tidak memiliki keahlian sebagai pemimpin.
6)   Tipe Kepemimpinan Populistik
Kelebihan tipe kepemimpinan ini adalah para pemimpinnya dapat dengan mudah membangkitkan rasa nasionalisme dari masyarakat yang dipimpinnya. Sedangkan kekurangannya adalah para pemimpin dari negara lain tidak memberikan simpati terhadap negara yang dipimpinnya. Kemajuan umum dari negara yang dipimpinnya akan sulit terwujud, sebagai akaibat dari tidak adanya hubungan dan bantuan dari negara lain. Dengan demikian akhirnya masyarakat menjadi tertinggal dari negara maju lainnya.
7)   Tipe Kepemimpinan Administratif atau Eksekutif
Kelebihan tipe kepemimpinan ini adalah administrasi bangsa dan negara yang dipimpinnya menjadi teratur dan utuh. Kekuranganya adalah sering terjadi prilaku masyarakat yang menyimpang dari yang diharapkan. Karena masyarakat yang dipimpinnya hanya memacu diri semata-mata untuk melengkapi administrasi yang diharapkan.
8)   Tipe Kepemimpinan Demokratik
Kelebihan tipe kepemimpinan ini adalah para pemimpin dari masyarakat dan negara yang bersangkutan memberikan kesempatan yang seluas-luasnya kepada masyarakat untuk ikut menentukan nasib bangsa dan negaranya sendiri. Sedangkan kekuranganya adalah kenyamanan, keamanan, dan kesejahteraan dari masyarakat tersebut sering kurang terkontrol secara akal sehat. Hal ini terjadi sebagai akibat rasa egoisme kebanyakan massa yang dimilikinya dan akhirnya sering pula terjadi kebrutalan massa.

2.4.   Kepemimpinan yang Ideal
Pemimpin adalah pribadi yang memilki keterampilan teknis, khususnya dalam suatu bidang tertentu, sehingga mampu mempengaruhi orang lain untuk bersama-sama melakukan aktivitas demi tercapainya satu atau beberapa tujuan organisasi. Kita mengenal beberapa macam teori tentang kepemimpinan, diantaranya dapat disebutkan seperti dibawah ini.
1.   Teori Pembawaan Kelahiran
Teori ini biasanya dianut dan hidup di kalangan kaum bangsawan. Seperti contohnya di Yogyakarta, yang dapat memangku jabatan sebagai Sultan atau Kepala Daerah Istimewa Yogyakarta hanyalah dari keturunan Sultan Yogya saja. Di antara golongan ynag mempunyai “Vested interest” mengatakan, bahwa seorang ayah dapat menjadi pemimpin, maka anaknya juga menjadi pemimpin. Bila orang tua dahulu tidak menjadi pemimpin, maka orang tersebut dipandang tidak cakap menjadi pemimpin. Dalam dunia demokrasi seperti sekarang ini kebiasaan seperti tersebut tidak dapat diterima sepenuhnya.
2.   Teori Sosial
Teori ini menyatakan, bahwa pada hakikatnya semua memilki kedudukan sederajat. Di antara mereka berhak menjadi pemimpin. Setiap orang mempunyai bakat untuk menjadi pemimpin, selanjutnya semua tergantung pada kesempatan yang ada. Jadi setiap orang dapat dididik, serta dipupuk untuk menjadi pemimpin. Pada hakikatnya setiap orang dapat menjadi pemimpin. Kalau tidak menjadi kepala negara, orang dapat menjadi kepala biro, kepala bagian, kepala seksi, dan bahkan sekurang-kurangnya menjadi kepala keluarga. Kepala keluarga untuk di Indonesia merupakan basis pemimpin-pemimpin negara. Keluarga membentuk masyarakat, dan masyarakat dapat membentuk suatu negara.

Banyak aspek dalam kehidupan ini dapat mengantarkan seseorang berhasil menjadi pemimpin. Diantara aspek-aspek tersebut dapat disebutkan seperti di bawah ini.
1)      Aspek Internal
Aspek ini identik dengan ketata lembagaan, artinya seorang pemimpin harus lebih banyak memberikan perhatian tentang bagaiman keadaan organisasi, geraknya, keadaanya, perkembanganya, tuntunannya serta tujuan organisasi tersebut. Dalam hal ini pemimpin harus memahami hal-hal sebagai berikut :
a.       Pandanagn pemimpin terhadap organisasi harus menyeluruh.
b.      Seorang pemimpin harus cepat, tepat dan tegas dalam mengambil keputusan.
c.       Harus pandai mendelegasikan wewenang kepada bawahan.
d.      Harus cakap/dapat memperoleh dukungan para bawahan.
2)      Aspek eksternal/ Aspek Politik
Seorang pemimpin harus melihat perkembangan situasi masyarakat yang ada di luar lingkungan organisasinya. Apakah masyarakat merasa senang, tenang atau tidak, merasa dirugikan atau tidak. Semuanya itu harus menjadi perhatian para pemimpin. Pemimpi yang ideal dan yang diharapkan oleh masyarakat adalah para pemimpin yang mampu dan mau mendahulukan tugas (kewajiban) daripada wewenang (hak) sebagai pemimpin. Seorang pemimpin agama seperti ‘Maha Rsi Wyasa’ dipandang memilki sifat-sifat unggul yang dibawa sejak lahir.

2.5.   Pemimpin dan Nitisastra
1)      Sad Upaya Guna
Lontar Raja Pati Gondala menjelaskan bahwa seorang pemimpin hendaknya bersifat penuh sahabat. Hal ini dikenal dengan istilah “ Upaya Guna” . Ada 6 sifat bersahabat bagi seorang pemimpin yang disebut Sad Upay Guna, yang terdiri dari berikut ini.
a.       Siddhi, artinya kemampuan untuk mengadakan sahabat.
b.      Wirgha, artinya kemampuan untuk memisahkan setiap permasalahan atau persoalan serta dapat mempertahankan hubungan baik.
c.       Wibawa, artinya memiliki kewibawaan.
d.      Winarya, artinya cakap memimpin.
e.       Gascarya, artinya kemampuan untuk menghadapi lawan yang kuat.
f.       Stanha, artinya menjaga hubungan baik.
2)      Catur Kotamaning Nrpati
Kitab Tata Nagara Majapahit, karya Prof. M. Yamin dalam parwa III, menyebutkan ada “empat sifat utama” yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin (swamin, raja). Keempat sifat utama itu disebut dengan istilah Catur Kotamaning Nrpati yang terdiri sebagai berikut.
a.       Jnana Wisesa Sudha, artinya pemimpin atau swamin hendaknya memiliki pengetahuan yang luhur dan suci. Maksudnya adalah seorang pemimpin harus mengerti dan menghayati ajaran-ajaran agama.
b.      Kaprahitaning Praja, artinya seorang pemimpin harus mampu menunjukkan belas kasihan kepada masyarakat. Maksudnya adalah seseorang harus dengan betul-betul menolong masyarakat yang menderita dengan perbuatan nyata, baik bersifat jasmaniah (material) maupun yang bersifat moral (rohaniah) yang ideal.
c.       Kawiryan, artinya seorang pemimpin harus berwatak pemberani atau pantang menyerah. Maksudnya adalah untuk menegakkan pengetahuan yang suci dan menolong rakyat yang menderita harus dilakasanakan dengan penuh keberanian, karena melakasanakan pengetahuan yang suci dan membela masyarakat yang menderita akan penuh dengan tantangan dan resiko.
d.      Wibawa, artinya seorang pemimpin atau swamin harus berwibawa terhadapa bawahan dan masyarakatnya. Seorang pemimpin akan berwibawa bila melakasanakan pengetahuan suci dan membela kepentingan masyarakat yang menderita dan memilki keberanian.
3)      Tri Upaya Sandhi
Lontar Raja Pati Gundala menyebutkan bahwa seorang pemimpin atau swamin harus memilki 3 upaya untuk menghubungkan dirinya dengan masyarakat yang dipimpinnya, yang disebut dengan istilah Tri Upaya Sandhi yang terdiri dari sebagai berikut :
a.       Rupa, artinya seorang pemimpin harus mengamati wajah dari masyarakatnya, karena roman muka dari masyarakatnya dapat memberikan gambaran tentang keadaan batin yang sesungguhnya. Wajah akan menggambarkan apakah rakyatnya itu sedang dalam keadaan susah atau bahagia.
b.      Wangsa, artinya suku atau bangsa. Seorang pemimpin harus mengetahui susunan masyarakat yang dipimpinnya. Dengan pengetahuan tersebut seorang pemimpin dspat menentukan sistem pendekatan atau motivasi yang harus dilakukan untuk masyarakat tersebut.
c.       Guna, artinya seorang pemimpin harus mengetahui tingkat pengertian dan pengetahuan serta keterampilan yang dimiliki oleh masyarakat yang dipimpinnya.
4)      Asta Brata
Dalam kitab Ramayana, Sri Rama mengajarkan kepada Gunawan Wibhisana tentang kepemimpinan yang disebut dengan nama Asta Brata. Gunawan Wibhisana merupakan pemimpin yang dipersiapkan untuk memimpin kerajaan Alengkapura. Asta Brata merupakan delapan landasan mental / moral bagi seorang pemimpin. Ajaran ini juga termuat dalam kitab hukum hindu yang disebut dengan Manawa Dharmasastra. Adapun bagian-bagian dari Asta Brata sebagai berikut:
a.       Indra Brata, artinya seorang pemimpin hendaknya mengikuti sifat-sifat Dewa Indra, yaitu sebagai dewa hujan. Hujan merupakan sumber kemakmuran, karena tanpa hujan tumbuhan dan makhluk hidup lainya tidak dapat hidup. Seorang pemimpin hendaknya seperti air yakni berasal dari bawah terus menguap dan turu kembali menjadi hujan untuk menghidupkan segala isi alam ini. Maksudnya adalah bahwa seorang pemimpin yang pada mulanya berasal dari manusia biasa, setelah terangkat menjadi pemimpin hendaknya tidak lupa kepada masyarakat yang dipimpinya.
b.      Yama Brata, artinya pemimpin hendaknya mengikuti sifat-sifat Dewa Yama yaitu menciptakan hukum, menegakkan hukum, dan memberikan hukuman secara adil kepada setiap orang yang bersalah.
c.       Surya Brata, artinya seorang pemimpin hendaknya memberikan penerangan secara adil dan merata kepada masyarakatnya dan selalu berhati-hati, seperti matahari yang sangat berhati-hati menyerap air. Surya Brata juga dapat diartikan bahwa seorang pemimpin harus selalu berusaha meningkatkan semangat perjuangan hidup seluruh masyarakatnya.
d.      Candra Brata, artinya seorang pemimpin hendaknya selalu dapat menunjukkan wajah yang tenang dan berseri-seri, sehingga masyarakat yakin akan kebesaran jiwa dari pemimpinnya.
e.       Bayu Brata, artinya seorang pemimpin hendakanya selalu mengetahui dan memnyelidiki keadaan yang sebenarnya, terutama keadaan masyarakat yang hidupnya paling menderita. Sifat pemimpin ini digambarkan bagaikan Sang Hyang Bayu, yaitu Dewa Angin yang selalu berhembus dari tekanan yang tinggi menuju pada tekanan yang lebih rendah.
f.       Danadha (Kwera) Brata, artinya seorang pemimpin harus bijaksana dalam mempergunakan uang atau dana, jangan menjadi pemboros yang dapat merugikan negara dan masyarakat. Danadha Brata juga disebut Artha Brata : Artinya seorang pemimpin harus mampu mempergunakan uang sehemat mungkin.
g.      Baruna Brata, artinya seorang pemimpin hendaknya dapat membersihkan segala bentuk penyakit masyarakat seperti: penggaguran, kenakalan remaja, pencurian, dan pengacauan politik.
h.      Agni Brata, artinya seorang pemimpin harus memiliki sifat kesatria yang disertai dengan semangat yang tinggi, bagaikan api yang tidak akan berhenti membakar sebelum apa yang dibakar itu habis.

Lontar Raja Pati Gondala menyebutkan sepuluh macam hal yang patut dijadikan sahabat oleh seorang pemimpin atau raja, antara lain:
1)      Satya                    : artinya kejujuran
2)      Arya                     : artinya orang besar
3)      Dharma                : artinya kebajikan
4)      Asurya                 : artinya orang yang dapat mengalahkan musuh
5)      Mantri                  : artinya orang yang dapat mengalahkan kesusahan
6)      Salyatawan          : artinya orang yang banyak sahabatnya
7)      Bali                      : artinya orang ynag kuat dan sakti
8)      Kaparamarthan    : artinya kerohanian
9)      Kadiran                : artinya orang yang tetap pendirian
10)  Guna                    : artinya orang yang banyak ilmu / pandai
Demikianlah beberapa sifat utama yang menjadi kewajiban seorang pemimpin masyarakat untuk dikuasainya. Ajaran ini harus dipelajari, diamalkan, dimusyawarahkan, dan juga ditiru untuk diterapkan dalam kepemimpinannya. Setiap pemimpin hendaknya dapat melaksanakan tugas-tugasnya sesuai dengan wewenangnya. Guna dapat memimpin masyarakat, bangsa dan negaranya. Para pemimpin negara yang memiliki sifat-sifat tersebut, akan dapat melakasanakan tugas dan wewenagnya sebagai pemimpin.


Untuk lebih lengkap silakan download disini.

[Kembali]                            [Naik]
Share this article :

0 komentar:

Tell us what you're thinking... !

 
Copyright © 2013. Ferryxz Yamato II - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger